Perbandingan Kisah Kedatangan Isa/Yesus ke Bumi di Akhir Zaman Penulis: Penata Muda Tk. I Sonny Maramis MingkidAparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri
Perbandingan Kisah Kedatangan Isa/Yesus ke Bumi di Akhir Zaman
Penulis: Penata Muda Tk. I Sonny Maramis Mingkid
Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri
Pendahuluan
Kedatangan Isa atau Yesus pada akhir zaman merupakan salah satu keyakinan penting yang dikenal dalam tradisi Islam maupun Kristen. Kedua agama sama-sama meyakini bahwa Isa/Yesus memiliki peran besar menjelang berakhirnya kehidupan dunia. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam penjelasan, tujuan kedatangan, bentuk peran, serta akhir dari misi tersebut.
Dalam Islam, Isa bin Maryam diyakini sebagai nabi dan rasul Allah yang akan turun kembali ke bumi menjelang hari kiamat. Kedatangannya bukan sebagai Tuhan, melainkan sebagai hamba Allah yang menegakkan kebenaran, membunuh Dajjal, menghancurkan salib, menghapus penyimpangan akidah, serta menegakkan keadilan berdasarkan syariat Allah.
Sementara itu, dalam Kristen, Yesus diyakini akan datang kembali untuk kedua kalinya sebagai Raja yang mulia. Kedatangan-Nya dipahami sebagai peristiwa besar untuk menghakimi dunia, memisahkan orang benar dan orang jahat, memerintah dalam kemuliaan, serta menghadirkan kerajaan Allah yang kekal.
1. Waktu Kedatangan
Dalam pandangan Islam, Isa akan turun ke bumi pada akhir zaman, yaitu ketika dunia berada dalam masa penuh kerusakan, fitnah, kezaliman, dan munculnya Dajjal. Kedatangan Isa menjadi salah satu tanda besar mendekatnya hari kiamat.
Dalam pandangan Kristen, Yesus akan datang kembali pada akhir zaman setelah masa kesengsaraan besar. Kedatangan ini disebut sebagai kedatangan kedua Yesus Kristus, yaitu saat Ia datang dalam kemuliaan untuk menghakimi dunia.
2. Tempat Turun
Dalam Islam, beberapa hadis menjelaskan bahwa Isa akan turun di dekat menara putih di sebelah timur Damaskus. Keterangan ini terdapat dalam riwayat hadis yang sering dikaitkan dengan peristiwa akhir zaman.
Dalam Kristen, Alkitab menjelaskan bahwa Yesus akan datang dari langit dengan kemuliaan-Nya. Penekanan utamanya bukan pada lokasi geografis tertentu, melainkan pada kedatangan dari surga secara penuh kuasa dan kemuliaan.
3. Bentuk dan Keadaan
Dalam Islam, Isa turun sebagai manusia biasa, bukan sebagai Tuhan. Ia digambarkan memiliki rupa yang tampan, berkulit putih kemerahan, dan memakai dua helai pakaian. Ia tetap berada dalam kedudukan sebagai nabi dan hamba Allah.
Dalam Kristen, Yesus datang sebagai Raja yang mulia. Ia digambarkan datang dengan kuasa, kemuliaan, dan disertai malaikat-malaikat. Kedatangan ini menunjukkan otoritas-Nya sebagai hakim dan penguasa akhir zaman.
4. Tujuan Kedatangan
Dalam Islam, tujuan utama kedatangan Isa adalah menegakkan tauhid, membunuh Dajjal, menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, serta menegakkan keadilan. Kedatangannya menjadi bukti bahwa kebenaran Allah akan menang atas kebatilan.
Dalam Kristen, tujuan kedatangan Yesus adalah menghakimi dunia, menyelamatkan orang benar, menghukum orang jahat, dan mendirikan kerajaan Allah yang kekal. Kedatangan ini menjadi puncak penggenapan janji keselamatan dalam iman Kristen.
5. Peran dan Tindakan
Dalam Islam, Isa akan menjadi pemimpin yang adil bagi umat manusia. Ia akan menjadi imam bagi kaum Muslimin, memimpin dalam keadilan, dan membawa kehidupan yang damai. Pada masa itu, kezaliman akan dihancurkan dan kebenaran akan ditegakkan.
Dalam Kristen, Yesus akan memerintah sebagai Raja atas bumi. Sebagian ajaran Kristen memahami pemerintahan ini berlangsung selama seribu tahun atau masa milenium. Pada masa tersebut, damai, kebenaran, dan keadilan Allah dinyatakan secara penuh.
6. Akhir Kehidupan
Dalam Islam, setelah menyelesaikan tugasnya di bumi, Isa akan wafat secara alami sebagaimana manusia biasa. Ia kemudian dikuburkan. Hal ini menegaskan bahwa Isa tetap merupakan makhluk ciptaan Allah, bukan Tuhan.
Dalam Kristen, Yesus diyakini hidup selama-lamanya bersama Allah. Setelah masa penghakiman dan pemulihan, orang-orang percaya akan hidup bersama Allah dalam langit yang baru dan bumi yang baru.
Catatan Penjelasan
Perbedaan utama antara Islam dan Kristen dalam memahami kedatangan Isa/Yesus terletak pada kedudukan pribadi Isa/Yesus. Islam menempatkan Isa sebagai nabi, rasul, dan hamba Allah. Ia memiliki kedudukan mulia, lahir dari Maryam secara mukjizat, dan diberi tugas besar oleh Allah. Namun, Islam tidak menganggap Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan.
Sebaliknya, Kristen memahami Yesus sebagai Tuhan, Anak Allah, Juru Selamat, dan Raja yang akan datang kembali dalam kemuliaan. Karena itu, kedatangan Yesus dalam Kristen dipahami sebagai peristiwa ilahi yang berkaitan dengan keselamatan, penghakiman, dan kerajaan Allah yang kekal.
Dalam Islam, kedatangan Isa berfungsi untuk meluruskan kesalahpahaman manusia terhadap dirinya. Ia datang untuk menegakkan tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Karena itu, simbol-simbol yang dianggap menyimpang dari tauhid akan dihapuskan.
Dalam Kristen, kedatangan Yesus dipahami sebagai penggenapan janji Allah. Ia datang bukan sekadar sebagai nabi, tetapi sebagai Raja dan Hakim. Kedatangan-Nya menjadi tanda akhir sejarah dunia lama dan permulaan kehidupan kekal bersama Allah.
Walaupun memiliki perbedaan teologis yang sangat mendasar, kedua agama sama-sama mengajarkan bahwa akhir zaman adalah masa pertanggungjawaban manusia. Kebaikan, keadilan, iman, dan kebenaran akan ditegakkan. Kezaliman, kebohongan, dan kejahatan tidak akan dibiarkan terus berkuasa.
Kesimpulan
Baik Islam maupun Kristen sama-sama meyakini bahwa Isa/Yesus akan memiliki peran penting pada akhir zaman. Dalam Islam, Isa turun sebagai nabi dan hamba Allah untuk menegakkan tauhid, membunuh Dajjal, menghancurkan kebatilan, dan memimpin manusia dalam keadilan. Dalam Kristen, Yesus datang kembali sebagai Raja yang mulia untuk menghakimi dunia, menyelamatkan orang benar, dan menghadirkan kerajaan Allah yang kekal.
Dengan demikian, kajian ini menunjukkan bahwa terdapat titik persamaan dalam keyakinan tentang kedatangan Isa/Yesus pada akhir zaman, tetapi terdapat pula perbedaan besar dalam aspek akidah, kedudukan, tujuan, dan akhir dari peristiwa tersebut.
Catatan kehati-hatian: rujukan ayat dan hadis sebaiknya diperiksa kembali langsung pada Al-Qur’an, kitab hadis, dan Alkitab resmi agar penulisan akademik atau keagamaan menjadi lebih akurat.
Komentar
Posting Komentar