JEJAK KEJAYAAN SRIWIJAYA DAN MAJAPAHIT DALAM MEMBENTUK PERADABAN NUSANTARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KAWASAN ASIA TENGGARA Penulis Penata Muda Tk. I Sonny Maramis Mingkid Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri

JEJAK KEJAYAAN SRIWIJAYA DAN MAJAPAHIT DALAM MEMBENTUK PERADABAN NUSANTARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KAWASAN ASIA TENGGARA

Penulis

Penata Muda Tk. I Sonny Maramis Mingkid

Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri


Kerajaan-kerajaan besar Nusantara pada masa lampau, khususnya Sriwijaya dan Majapahit, merupakan dua kekuatan peradaban terbesar yang pernah berdiri di kawasan Asia Tenggara dan memiliki pengaruh luas terhadap perkembangan politik, perdagangan, kebudayaan, bahasa, agama, pelayaran, serta hubungan diplomatik antarbangsa di kawasan regional. Kejayaan kedua kerajaan tersebut menjadi bukti nyata bahwa wilayah Nusantara sejak dahulu telah menjadi pusat peradaban maritim yang maju, kuat, terorganisasi, dan mampu menjalin hubungan internasional dengan berbagai bangsa di dunia. Dalam sejarah panjang peradaban Asia Tenggara, Sriwijaya dan Majapahit tidak hanya dikenal sebagai kerajaan besar di Indonesia modern saat ini, melainkan juga sebagai simbol persatuan kawasan yang menghubungkan berbagai wilayah melalui jalur perdagangan, kebudayaan, dan kekuatan maritim.

Kerajaan Sriwijaya yang berkembang sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi dikenal sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara yang berpusat di Sumatera, terutama di wilayah Palembang. Sriwijaya berhasil menguasai jalur perdagangan internasional di Selat Malaka yang menjadi jalur utama perdagangan antara India, Timur Tengah, Tiongkok, dan Asia Tenggara. Keberhasilan Sriwijaya dalam mengendalikan jalur laut tersebut menjadikan kerajaan ini sangat kaya dan berpengaruh. Kapal-kapal dagang dari berbagai negara singgah di pelabuhan Sriwijaya untuk melakukan perdagangan rempah-rempah, emas, kapur barus, hasil hutan, dan berbagai komoditas penting lainnya.

Selain menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga berkembang sebagai pusat pendidikan agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Banyak pendeta dan pelajar dari Tiongkok maupun India datang untuk belajar di Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda di India. Hal ini menunjukkan bahwa Nusantara sejak dahulu telah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang dihormati dunia internasional. Pengaruh Sriwijaya kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, Singapura, hingga sebagian wilayah Filipina Selatan melalui perdagangan dan hubungan budaya.

Dalam aspek budaya dan bahasa, pengaruh Sriwijaya sangat besar terhadap perkembangan budaya Melayu di kawasan Asia Tenggara. Bahasa Melayu yang berkembang pada masa itu digunakan sebagai bahasa perdagangan internasional di kawasan Nusantara dan menjadi dasar penting bagi perkembangan bahasa Indonesia modern saat ini. Pengaruh budaya Melayu yang diwariskan Sriwijaya masih dapat ditemukan di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan sebagian wilayah Thailand Selatan. Sistem perdagangan terbuka, hubungan diplomatik, dan budaya maritim Sriwijaya membentuk identitas kawasan yang saling terhubung satu sama lain.

Setelah masa kejayaan Sriwijaya mulai mengalami kemunduran akibat serangan dari Kerajaan Chola India dan munculnya kekuatan baru di Jawa, lahirlah Kerajaan Majapahit yang berkembang pesat pada abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara dengan pusat pemerintahan di Jawa Timur. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kejayaan dan berhasil memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah Nusantara serta kawasan Asia Tenggara.

Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada menjadi simbol tekad persatuan Nusantara. Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada berjanji tidak akan menikmati kenikmatan dunia sebelum berhasil mempersatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah pengaruh Majapahit. Semangat persatuan tersebut sering dianggap sebagai salah satu inspirasi historis bagi lahirnya konsep persatuan Indonesia modern. Walaupun secara historis bentuk kekuasaan Majapahit berbeda dengan negara modern saat ini, pengaruh politik dan budayanya memang sangat luas di kawasan Asia Tenggara.

Majapahit memiliki kekuatan maritim dan perdagangan yang sangat besar. Armada laut Majapahit mampu menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, Semenanjung Malaya, Brunei, hingga Filipina Selatan. Pengaruh budaya Majapahit juga terlihat melalui penyebaran seni bangunan, sastra, sistem pemerintahan, tradisi kerajaan, dan budaya agraris-maritim di berbagai wilayah Nusantara.

Hubungan historis antara Nusantara dengan negara-negara Asia Tenggara modern seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan, Filipina Selatan, dan Timor Leste menunjukkan adanya keterkaitan budaya dan sejarah yang sangat panjang. Di Malaysia dan Brunei misalnya, pengaruh budaya Melayu yang berkembang dari masa Sriwijaya hingga Kesultanan Melayu masih sangat kuat dalam bahasa, adat istiadat, sistem pemerintahan, dan identitas budaya masyarakatnya. Di Singapura, sejarah perdagangan maritim yang pernah berkembang sejak masa Sriwijaya dan Majapahit menjadi bagian penting dari sejarah kawasan Selat Malaka.

Di Filipina Selatan, terutama wilayah Mindanao dan Sulu, terdapat hubungan dagang dan budaya dengan kerajaan-kerajaan Nusantara sejak berabad-abad lalu. Sementara di Thailand Selatan, pengaruh budaya Melayu dan hubungan perdagangan dari masa Sriwijaya masih terlihat dalam aspek budaya dan masyarakat setempat. Adapun Timor Leste juga memiliki hubungan sejarah dengan jaringan perdagangan dan pengaruh budaya dari kerajaan-kerajaan Nusantara masa lampau.

Namun demikian, penting dipahami secara objektif dan ilmiah bahwa konsep “satu kerajaan dengan Indonesia” dalam konteks sejarah tidak dapat disamakan dengan konsep negara modern saat ini. Pada masa lampau, hubungan antarwilayah lebih banyak berupa pengaruh perdagangan, hubungan budaya, tributari, diplomasi, atau pengakuan simbolik terhadap kekuatan kerajaan tertentu. Oleh karena itu, sejarah harus dipahami secara bijaksana berdasarkan kajian akademik, bukti arkeologis, naskah sejarah, dan penelitian ilmiah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami hubungan antarnegara modern.

Keberadaan Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak dahulu telah memiliki kemampuan besar dalam membangun peradaban maju berbasis maritim, perdagangan internasional, diplomasi, ilmu pengetahuan, dan persatuan kawasan. Kejayaan kedua kerajaan tersebut menjadi warisan sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia dalam membangun semangat persatuan, kebangsaan, kerja sama regional, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya di Asia Tenggara.

Dalam konteks modern, sejarah Nusantara dapat dijadikan sumber inspirasi untuk memperkuat hubungan persahabatan antarnegara ASEAN. Semangat persatuan, perdagangan damai, pertukaran budaya, dan kerja sama regional yang pernah berkembang pada masa Sriwijaya dan Majapahit dapat menjadi pelajaran penting dalam menjaga stabilitas, perdamaian, dan kemajuan kawasan Asia Tenggara di era globalisasi saat ini. Dengan memahami sejarah secara mendalam dan objektif, generasi masa kini dapat mengambil hikmah dari kejayaan masa lampau untuk membangun masa depan bangsa yang lebih kuat, berdaulat, maju, dan bermartabat di tengah pergaulan dunia internasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Sejarah Baru: PNS Polda Sumbar Raih Pangkat Pembina Utama Muda Setara Kombes Pol

Pelatihan dan Sertifikasi Petugas Penguji Surat Izin Mengemudi (SIM) dalam Kerangka RUNK Jalan, RPJMN, dan Visi Indonesia Emas 2045

Kota Manado sebagai tuan rumah PON XXIII Tahun 2032.