JEJAK KEJAYAAN NUSANTARA: Dari Kadatuan Śrīvijaya, Kerajaan Wilwatikta Majapahit, hingga Republik Indonesia Modern sebagai Pewaris Peradaban Maritim, Persatuan, dan Kedaulatan Bangsa Penulis: Penata Muda Tk. I Sonny Maramis Mingkid Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri


Penulis: Penata Muda Tk. I Sonny Maramis Mingkid
Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri

Catatan Sejarah Nusantara: Dari Kadatuan Śrīvijaya, Kerajaan Wilwatikta/Majapahit, hingga Republik Indonesia

Sejarah Nusantara merupakan perjalanan panjang yang memperlihatkan kesinambungan kekuatan maritim, perdagangan, kebudayaan, pemerintahan, dan persatuan wilayah kepulauan. Gambar tersebut menggambarkan tiga fase besar dalam sejarah kawasan Nusantara, yaitu masa Kadatuan Śrīvijaya, masa Kerajaan Wilwatikta atau Majapahit, dan masa Republik Indonesia.

1. Kadatuan Śrīvijaya

Kadatuan Śrīvijaya merupakan salah satu kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara pada masa awal abad pertengahan. Pusat kekuasaannya umumnya dikaitkan dengan wilayah Sumatra, terutama sekitar Palembang dan daerah aliran Sungai Musi. Śrīvijaya berkembang sebagai kerajaan maritim karena letaknya sangat strategis di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan India, Tiongkok, Semenanjung Melayu, dan kepulauan Nusantara.

Kekuatan utama Śrīvijaya tidak hanya terletak pada luas wilayahnya, tetapi juga pada kemampuannya menguasai jalur pelayaran dan perdagangan. Selat Malaka dan Selat Sunda menjadi dua jalur penting yang memberi pengaruh besar terhadap kemakmuran Śrīvijaya. Melalui penguasaan jalur tersebut, Śrīvijaya mampu mengendalikan arus barang, pelaut, pedagang, serta hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan besar di luar Nusantara.

Śrīvijaya juga dikenal sebagai pusat agama Buddha dan pendidikan keagamaan. Banyak catatan sejarah menyebutkan bahwa para pelajar dan biksu dari berbagai wilayah singgah di Śrīvijaya untuk memperdalam ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Hal ini menunjukkan bahwa Śrīvijaya bukan sekadar kerajaan dagang, melainkan juga pusat ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kebudayaan.

Namun, penanggalan “671–1025 M” dalam gambar perlu dipahami secara hati-hati. Tahun 671 M sering dikaitkan dengan catatan perjalanan I-Tsing yang menunjukkan keberadaan Śrīvijaya sebagai pusat penting. Tahun 1025 M sering dikaitkan dengan serangan Kerajaan Chola dari India Selatan yang melemahkan Śrīvijaya. Akan tetapi, pengaruh Śrīvijaya tidak langsung hilang pada tahun tersebut; kekuatannya menurun secara bertahap.

2. Kerajaan Wilwatikta atau Majapahit

Kerajaan Wilwatikta lebih dikenal dengan nama Majapahit. Kerajaan ini berdiri pada akhir abad ke-13 dan mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14, terutama pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan dukungan Mahapatih Gajah Mada. Majapahit berpusat di Jawa Timur dan dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Majapahit memiliki pengaruh politik, ekonomi, dan budaya yang sangat luas. Wilayah pengaruhnya mencakup banyak daerah di kepulauan Nusantara, meskipun bentuk penguasaannya tidak selalu sama seperti negara modern. Sebagian wilayah berada di bawah kekuasaan langsung, sementara sebagian lain merupakan wilayah pengaruh, mitra dagang, daerah taklukan, atau kerajaan bawahan yang memiliki hubungan politik dengan Majapahit.

Salah satu gagasan penting dari masa Majapahit adalah cita-cita penyatuan Nusantara. Gajah Mada terkenal dengan Sumpah Palapa, yaitu tekad untuk tidak menikmati kesenangan pribadi sebelum berhasil mempersatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah pengaruh Majapahit. Walaupun rincian historisnya sering diperdebatkan, gagasan ini tetap menjadi simbol penting tentang persatuan, visi kebangsaan, dan kesadaran geopolitik Nusantara.

Majapahit juga meninggalkan warisan besar dalam bidang hukum, sastra, arsitektur, tata pemerintahan, dan kebudayaan. Kitab seperti Nagarakretagama dan Pararaton menjadi sumber penting untuk memahami struktur pemerintahan, hubungan antardaerah, dan gambaran politik masa itu.

Penanggalan “1292–1527 M” pada gambar juga perlu diberi catatan. Majapahit biasanya disebut berdiri pada tahun 1293 M oleh Raden Wijaya. Tahun 1527 M sering dipakai sebagai simbol berakhirnya kekuasaan Majapahit akibat melemahnya pusat kerajaan dan munculnya kekuatan-kekuatan Islam di pesisir Jawa, termasuk Demak. Namun, proses keruntuhan Majapahit berlangsung bertahap, bukan peristiwa tunggal yang terjadi secara mendadak.

3. Republik Indonesia

Republik Indonesia berdiri sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Berbeda dengan Śrīvijaya dan Majapahit yang berbentuk kerajaan atau kadatuan, Indonesia adalah negara modern berbentuk republik. Negara ini memiliki konstitusi, pemerintahan nasional, wilayah kedaulatan, rakyat, serta pengakuan internasional.

Indonesia mewarisi karakter maritim Nusantara. Sebagai negara kepulauan, Indonesia terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Letak geografis Indonesia sangat strategis karena berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta dua samudra, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Kesinambungan sejarah dari Śrīvijaya, Majapahit, hingga Indonesia memperlihatkan bahwa wilayah Nusantara sejak dahulu memiliki arti penting dalam jalur perdagangan, kebudayaan, politik, dan pertahanan kawasan. Namun, perlu ditegaskan bahwa Republik Indonesia bukan kelanjutan langsung secara hukum dari Śrīvijaya atau Majapahit. Indonesia adalah negara modern yang lahir dari perjuangan kemerdekaan, tetapi memiliki akar historis dan kultural yang panjang dari peradaban Nusantara sebelumnya.

Kesimpulan

Gambar tersebut dapat dipahami sebagai gambaran perbandingan tiga masa besar dalam sejarah Nusantara. Śrīvijaya menunjukkan kejayaan maritim dan perdagangan di Sumatra serta kawasan sekitarnya. Majapahit menunjukkan kekuatan politik dan budaya yang berpusat di Jawa dengan pengaruh luas di Nusantara. Republik Indonesia menunjukkan bentuk negara modern yang menyatukan wilayah kepulauan dalam satu kedaulatan nasional.

Dengan demikian, sejarah Nusantara bukan hanya sejarah tentang wilayah, melainkan juga tentang kesinambungan gagasan: penguasaan laut, hubungan antarpulau, perdagangan, diplomasi, kebudayaan, persatuan, dan identitas bangsa. Dari Śrīvijaya kita belajar pentingnya kekuatan maritim. Dari Majapahit kita belajar pentingnya visi persatuan. Dari Republik Indonesia kita belajar pentingnya menjaga kedaulatan, kebhinekaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Sejarah Baru: PNS Polda Sumbar Raih Pangkat Pembina Utama Muda Setara Kombes Pol

Pelatihan dan Sertifikasi Petugas Penguji Surat Izin Mengemudi (SIM) dalam Kerangka RUNK Jalan, RPJMN, dan Visi Indonesia Emas 2045

Kota Manado sebagai tuan rumah PON XXIII Tahun 2032.