Catatan Sejarah: Timeline Raja-Raja Singasari Penulis: Penata Muda TK. I Sonny Maramis Mingkid Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri


Catatan Sejarah: Timeline Raja-Raja Singasari

Penulis: Penata Muda TK. I Sonny Maramis Mingkid
Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri

Pendahuluan

Kerajaan Singasari atau Singhasari merupakan salah satu kerajaan besar di Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-13 Masehi. Kerajaan ini lahir dari pergolakan politik di wilayah Tumapel, yang semula berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Singasari menjadi penting dalam sejarah Nusantara karena menjadi penghubung antara masa Kerajaan Kediri dan kejayaan Majapahit.

Sejarah Singasari tidak hanya berisi pergantian raja, tetapi juga kisah ambisi politik, perebutan kekuasaan, kutukan keris Mpu Gandring, pembunuhan antar-keturunan, ekspansi wilayah, serta konflik dengan kekuatan asing seperti Mongol. Dari kerajaan inilah muncul tokoh-tokoh besar seperti Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, Wisnuwardhana, Kertanegara, hingga Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Majapahit.


1. Ken Arok

Masa pemerintahan: 1222–1227 M

Ken Arok adalah pendiri Kerajaan Singasari. Sebelum menjadi raja, ia dikenal sebagai tokoh dari Tumapel yang berhasil naik ke puncak kekuasaan melalui keberanian, kecerdikan, dan ambisi politik.

Pada awalnya Tumapel berada di bawah pengaruh Kerajaan Kediri. Penguasa Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung. Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring. Setelah itu, Ken Arok menikahi Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, yang menurut kisah tradisional dianggap memiliki tanda sebagai perempuan pembawa keturunan raja-raja besar.

Ken Arok kemudian memberontak terhadap Kerajaan Kediri. Dalam pertempuran di Ganter pada tahun 1222, Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya dari Kediri. Kemenangan ini menandai berdirinya Kerajaan Singasari.

Namun, kekuasaan Ken Arok tidak berlangsung lama. Ia dibunuh oleh Anusapati, anak Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Pembunuhan ini menjadi awal siklus balas dendam berdarah dalam keluarga kerajaan Singasari.


2. Anusapati

Masa pemerintahan: 1227–1248 M

Anusapati naik takhta setelah membunuh Ken Arok. Ia merupakan putra Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Motif utamanya adalah membalas kematian ayah kandungnya yang dahulu dibunuh oleh Ken Arok.

Masa pemerintahan Anusapati relatif lebih tenang dibanding masa Ken Arok, tetapi sumber sejarah tidak banyak mencatat keberhasilan politik besar pada masa pemerintahannya. Ia dikenal lebih banyak dalam kisah perebutan kekuasaan keluarga kerajaan.

Akhir kekuasaannya juga tragis. Anusapati dibunuh oleh Tohjaya, putra Ken Arok dari Ken Umang. Tohjaya membunuh Anusapati sebagai bentuk balas dendam atas kematian Ken Arok. Dengan demikian, dendam lama kembali melahirkan konflik baru.


3. Tohjaya

Masa pemerintahan: 1248 M

Tohjaya memerintah Singasari dalam waktu yang sangat singkat. Ia adalah putra Ken Arok dari Ken Umang. Setelah membunuh Anusapati, ia berhasil menduduki takhta Singasari.

Namun, pemerintahannya tidak stabil. Tohjaya dianggap kurang mampu menjaga keseimbangan politik istana. Ia juga berhadapan dengan keturunan Anusapati, terutama Ranggawuni, yang kemudian dikenal sebagai Wisnuwardhana.

Tohjaya akhirnya digulingkan melalui pemberontakan yang didukung oleh kelompok bangsawan. Dalam konflik tersebut, Tohjaya terluka dan meninggal. Setelah kejatuhannya, takhta Singasari jatuh kepada Ranggawuni atau Wisnuwardhana.


4. Wisnuwardhana atau Ranggawuni

Masa pemerintahan: 1248–1268 M

Wisnuwardhana, yang juga dikenal sebagai Ranggawuni, merupakan raja Singasari yang berhasil membawa stabilitas setelah masa penuh konflik berdarah. Ia adalah keturunan Anusapati.

Pada masa pemerintahannya, keadaan kerajaan mulai lebih tenang. Wisnuwardhana tidak hanya memerintah sendiri, tetapi juga bekerja sama dengan Mahisa Cempaka. Kerja sama ini penting karena mampu meredakan konflik antara garis keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung.

Pemerintahan Wisnuwardhana menjadi masa konsolidasi kekuasaan. Ia memperkuat pemerintahan, menata kembali hubungan antarbangsawan, dan mempersiapkan Singasari menjadi kerajaan yang lebih kuat. Pada masa inilah fondasi politik Singasari menjadi lebih stabil, sehingga putranya, Kertanegara, dapat melanjutkan pemerintahan dengan ambisi yang lebih besar.


5. Kertanegara

Masa pemerintahan: 1268–1292 M

Kertanegara adalah raja terakhir sekaligus raja terbesar Kerajaan Singasari. Ia dikenal sebagai raja yang memiliki visi luas untuk memperbesar pengaruh Singasari di Nusantara.

Salah satu kebijakan penting Kertanegara adalah Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Ekspedisi ini dikirim ke wilayah Melayu di Sumatra untuk memperluas pengaruh Singasari dan menghadapi ancaman kekuatan Mongol yang sedang berkembang di Asia.

Kertanegara juga terkenal karena berani menolak tunduk kepada Kaisar Kubilai Khan dari Dinasti Yuan Mongol. Ketika utusan Mongol datang meminta Singasari mengakui kekuasaan Mongol, Kertanegara menolak dengan keras. Dalam kisah sejarah, utusan tersebut bahkan dipermalukan. Sikap ini membuat Mongol kemudian mengirim ekspedisi hukuman ke Jawa.

Namun, sebelum pasukan Mongol tiba, Singasari mengalami serangan dari dalam negeri. Jayakatwang, penguasa Kediri yang masih memiliki dendam terhadap Singasari, memberontak pada tahun 1292. Saat serangan terjadi, sebagian besar kekuatan militer Singasari sedang berada di luar Jawa karena Ekspedisi Pamalayu. Akibatnya, pertahanan Singasari melemah.

Kertanegara tewas dalam serangan Jayakatwang. Peristiwa ini menandai runtuhnya Kerajaan Singasari pada tahun 1292.


6. Runtuhnya Singasari

Tahun: 1292 M

Kerajaan Singasari runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kediri. Faktor utama keruntuhan Singasari adalah lemahnya pertahanan dalam negeri karena banyak pasukan dikirim dalam Ekspedisi Pamalayu. Selain itu, ketegangan politik lama antara Kediri dan Singasari belum sepenuhnya hilang.

Setelah Singasari runtuh, Jayakatwang sempat menguasai Jawa Timur. Namun, kekuasaannya tidak bertahan lama. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, berhasil menyusun strategi. Ia berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang, lalu memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menyerang Kediri.

Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya kemudian berbalik melawan pasukan Mongol dan mengusir mereka dari Jawa. Dari peristiwa inilah lahir Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.


Kesimpulan

Sejarah Singasari adalah sejarah tentang lahirnya kekuasaan besar melalui konflik, ambisi, dan strategi politik. Ken Arok mendirikan kerajaan melalui pemberontakan terhadap Kediri. Anusapati dan Tohjaya menunjukkan masa penuh balas dendam keluarga. Wisnuwardhana menghadirkan stabilitas. Kertanegara membawa Singasari menuju puncak kejayaan, tetapi juga membuka risiko besar melalui ekspansi militer.

Runtuhnya Singasari bukan sekadar akibat serangan Jayakatwang, tetapi juga akibat gabungan faktor internal dan eksternal: dendam politik Kediri, lemahnya pertahanan pusat, serta kebijakan ekspansi yang membuat kekuatan militer tersebar. Meski runtuh pada 1292, warisan Singasari tidak hilang. Kerajaan ini menjadi dasar lahirnya Majapahit, kerajaan besar yang kemudian menguasai sebagian besar wilayah Nusantara.

Singasari adalah mata rantai penting dalam sejarah Indonesia karena dari kerajaan ini muncul gagasan penyatuan wilayah Nusantara yang kelak mencapai puncaknya pada masa Majapahit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Sejarah Baru: PNS Polda Sumbar Raih Pangkat Pembina Utama Muda Setara Kombes Pol

Pelatihan dan Sertifikasi Petugas Penguji Surat Izin Mengemudi (SIM) dalam Kerangka RUNK Jalan, RPJMN, dan Visi Indonesia Emas 2045

Kota Manado sebagai tuan rumah PON XXIII Tahun 2032.