AGAMA DI MAJAPAHITHarmoni Kepercayaan, Persatuan Peradaban, dan Warisan Toleransi Nusantara Penulis :Penata Muda TK. I Sonny Maramis Mingkid Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri

AGAMA DI MAJAPAHIT

Harmoni Kepercayaan, Persatuan Peradaban, dan Warisan Toleransi Nusantara

Penulis :

Penata Muda TK. I Sonny Maramis Mingkid
Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri


PENDAHULUAN

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara yang berdiri sekitar abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Kejayaan Majapahit bukan hanya dikenal karena kekuatan politik, militer, perdagangan, dan pengaruh wilayahnya yang luas, tetapi juga karena kemampuan masyarakatnya dalam menjaga kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman agama, budaya, dan kepercayaan.

Majapahit menjadi simbol kejayaan peradaban Nusantara yang mampu menyatukan perbedaan dalam satu semangat persatuan. Dalam kehidupan masyarakatnya, agama tidak dijadikan alat perpecahan, melainkan sebagai sumber moral, spiritualitas, dan kebijaksanaan. Nilai toleransi, penghormatan terhadap keyakinan lain, serta semangat hidup berdampingan secara damai menjadi fondasi penting dalam membangun stabilitas kerajaan.

Pada masa Majapahit berkembang beberapa ajaran besar seperti Hindu Siwa, Buddha Mahayana, ajaran Siwa-Buddha, serta mulai masuknya Islam melalui jalur perdagangan dan dakwah damai para pedagang dari Gujarat, Arab, Persia, dan Nusantara sendiri. Keberadaan berbagai agama tersebut menunjukkan bahwa Majapahit memiliki tingkat keterbukaan sosial yang tinggi dibandingkan banyak kerajaan lain pada zamannya.

Konsep persatuan dalam keberagaman di Majapahit bahkan melahirkan semboyan legendaris yang hingga kini menjadi dasar persatuan bangsa Indonesia, yaitu:

“Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua.

Ungkapan tersebut ditulis oleh Mpu Tantular dalam kitab Kakawin Sutasoma. Kalimat ini bukan sekadar sastra, melainkan filosofi kehidupan masyarakat Majapahit yang menjunjung tinggi toleransi dan persatuan.


1. KEBEBASAN BERAGAMA DI MAJAPAHIT

A. Kehidupan Religius Masyarakat Majapahit

Pada masa Kerajaan Majapahit, masyarakat hidup dalam suasana yang relatif damai dan toleran. Pemerintah kerajaan tidak memaksakan satu agama tertentu kepada rakyatnya. Setiap kelompok masyarakat diberi ruang untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.

Kehidupan spiritual masyarakat Majapahit dipengaruhi oleh beberapa ajaran besar:

1. Hindu

Agama Hindu menjadi agama yang paling dominan di lingkungan kerajaan dan bangsawan. Aliran yang berkembang terutama adalah Hindu Siwa. Banyak candi besar dibangun sebagai tempat pemujaan dan penghormatan kepada para dewa serta leluhur.

Contoh peninggalan:

  • Candi Penataran
  • Candi Tikus
  • Candi Sukuh
  • Candi Jabung

Hindu di Majapahit tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga mengenai tata pemerintahan, hukum, etika, dan moral kehidupan.


2. Buddha

Agama Buddha berkembang berdampingan dengan Hindu. Ajaran Buddha Mahayana memiliki pengaruh besar dalam kehidupan spiritual masyarakat.

Kaum Buddha hidup berdampingan dengan umat Hindu tanpa konflik besar. Bahkan banyak pejabat kerajaan dan tokoh masyarakat yang mempelajari kedua ajaran tersebut sekaligus.

Nilai utama Buddha yang berkembang:

  • Welas asih
  • Pengendalian diri
  • Kedamaian batin
  • Kebijaksanaan

3. Siwa-Buddha

Salah satu keunikan Majapahit adalah munculnya sinkretisme atau perpaduan antara Hindu Siwa dan Buddha.

Ajaran Siwa-Buddha mengajarkan bahwa meskipun jalan spiritual berbeda, tujuan akhir kehidupan tetap sama, yaitu mencapai kesempurnaan jiwa dan keharmonisan alam semesta.

Perpaduan ini menjadi simbol:

  • Persatuan spiritual
  • Harmoni sosial
  • Keselarasan kehidupan

4. Islam

Pada akhir masa Majapahit, Islam mulai berkembang melalui jalur perdagangan maritim. Pedagang Muslim datang dari:

  • Gujarat
  • Persia
  • Arab
  • Melayu

Islam berkembang secara damai melalui:

  • Perdagangan
  • Pernikahan
  • Pendidikan
  • Dakwah budaya

Masyarakat Muslim hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu-Buddha. Hal ini membuktikan bahwa Majapahit memiliki sistem sosial yang cukup terbuka terhadap pengaruh luar.


B. Toleransi Sebagai Pilar Kerajaan

Majapahit memahami bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan bijaksana.

Prinsip toleransi diwujudkan dalam:

  • Kebebasan menjalankan ibadah
  • Pengakuan terhadap perbedaan keyakinan
  • Kerja sama antarkelompok masyarakat
  • Kehidupan sosial yang harmonis

Kerajaan tidak menjadikan agama sebagai alat penindasan politik. Sebaliknya, agama dijadikan sarana memperkuat moral dan persatuan rakyat.


2. TELADAN DARI PARA TOKOH MAJAPAHIT

A. Gajah Mada

Mahapatih Gajah Mada dikenal sebagai tokoh besar yang berhasil menyatukan Nusantara melalui Sumpah Palapa.

Beliau merupakan penganut Hindu Siwa yang sangat setia kepada kerajaan dan memiliki jiwa patriotisme tinggi.

Nilai keteladanan Gajah Mada:

  • Loyalitas kepada negara
  • Pengabdian tanpa pamrih
  • Persatuan di atas kepentingan pribadi
  • Kepemimpinan yang tegas

Gajah Mada memahami bahwa kekuatan Majapahit tidak hanya berasal dari militer, tetapi juga dari persatuan rakyat yang beragam.


B. Raden Husain

Dalam beberapa tradisi dan cerita lokal, disebutkan adanya tokoh Muslim yang tetap setia kepada Majapahit dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial kerajaan.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Perbedaan agama tidak menghalangi loyalitas kepada negara
  • Kerajaan menghargai keberagaman
  • Persatuan bangsa lebih utama daripada perbedaan keyakinan

C. Mpu Tantular

Mpu Tantular adalah pujangga besar Majapahit yang menciptakan konsep “Bhinneka Tunggal Ika”.

Beliau mengajarkan bahwa:

  • Perbedaan bukan ancaman
  • Keragaman adalah kekuatan
  • Persatuan harus dijaga demi kedamaian bersama

Pemikiran beliau menjadi warisan besar bagi bangsa Indonesia modern.


3. PELAJARAN DARI MASA LALU

A. Konflik Kerajaan Sebelumnya

Sebelum Majapahit mencapai kejayaan, Nusantara pernah mengalami konflik antara kerajaan Hindu dan Buddha, seperti:

  • Dinasti Sanjaya
  • Dinasti Sailendra
  • Kerajaan Mataram Kuno

Persaingan tersebut menimbulkan:

  • Perpecahan politik
  • Perebutan kekuasaan
  • Ketidakstabilan sosial

Majapahit belajar dari sejarah tersebut dan memilih jalan persatuan.


B. Persatuan Sebagai Strategi Peradaban

Majapahit memahami bahwa kerajaan besar tidak dapat berdiri di atas konflik berkepanjangan.

Karena itu:

  • Perbedaan agama dijembatani
  • Dialog budaya dikembangkan
  • Kerukunan dijaga

Persatuan menjadi strategi utama membangun:

  • Stabilitas kerajaan
  • Kemajuan ekonomi
  • Kekuatan politik
  • Keamanan wilayah

C. Relevansi Bagi Indonesia Modern

Nilai toleransi Majapahit masih sangat relevan bagi Indonesia saat ini.

Indonesia adalah bangsa besar dengan:

  • Ribuan pulau
  • Ratusan suku
  • Beragam bahasa
  • Banyak agama dan kepercayaan

Semangat Majapahit mengajarkan bahwa:

  • Perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan
  • Persatuan harus dijaga
  • Toleransi adalah kekuatan bangsa

4. WARISAN HARMONI DI KERATON CIREBON

Keraton Kasepuhan Cirebon menyimpan peninggalan penting berupa Lingga dan Yoni sebagai simbol harmoni Siwa-Buddha dan spiritualitas Nusantara.

Makna Lingga dan Yoni

Lingga

Melambangkan:

  • Purusha (unsur laki-laki)
  • Kekuatan spiritual
  • Energi penciptaan

Yoni

Melambangkan:

  • Pradana atau unsur perempuan
  • Kesuburan
  • Kehidupan

Keduanya melambangkan:

  • Keseimbangan alam
  • Kesatuan kehidupan
  • Harmoni semesta

Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara memiliki filosofi kehidupan yang sangat mendalam dan menghormati keseimbangan.


NILAI-NILAI PENTING DARI MAJAPAHIT

1. Toleransi

Menghormati keyakinan orang lain tanpa memaksakan kehendak.

2. Persatuan

Menempatkan kepentingan bangsa di atas perbedaan.

3. Kebijaksanaan

Menyelesaikan masalah melalui dialog dan keharmonisan.

4. Gotong Royong

Membangun masyarakat melalui kerja sama.

5. Kesetiaan Kepada Negara

Mengutamakan pengabdian demi kesejahteraan rakyat.


KESIMPULAN

Majapahit merupakan contoh besar peradaban Nusantara yang berhasil membangun kejayaan melalui persatuan dan toleransi. Keberagaman agama tidak dijadikan alasan untuk berpecah belah, melainkan dijadikan fondasi kekuatan kerajaan.

Hindu, Buddha, Siwa-Buddha, dan Islam dapat hidup berdampingan dalam suasana damai. Para tokoh besar Majapahit menunjukkan bahwa loyalitas kepada negara, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan kunci keberhasilan sebuah bangsa.

Warisan nilai Majapahit tetap relevan bagi Indonesia modern. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat:

  • toleransi,
  • persatuan,
  • penghormatan terhadap keberagaman,
  • serta cinta tanah air

harus terus dijaga demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagaimana semangat luhur Majapahit:

“Bhinneka Tunggal Ika”
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.


PENUTUP

Tulisan ini disusun sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Nusantara dan sebagai pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Semoga nilai-nilai luhur Majapahit dapat terus menjadi inspirasi dalam membangun Indonesia yang damai, adil, toleran, maju, dan bermartabat.


Penulis :

Penata Muda TK. I Sonny Maramis Mingkid

Aparatur Sipil Negara (ASN) Mabes Polri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tonggak Sejarah Baru: PNS Polda Sumbar Raih Pangkat Pembina Utama Muda Setara Kombes Pol

Pelatihan dan Sertifikasi Petugas Penguji Surat Izin Mengemudi (SIM) dalam Kerangka RUNK Jalan, RPJMN, dan Visi Indonesia Emas 2045

Kota Manado sebagai tuan rumah PON XXIII Tahun 2032.