penerapan prinsip food security dan food safety merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di lingkungan Polri.
Catatan Penda TK. 1 Sonny Maramis Mingkid
Dalam rangka mempertahankan zero accident pada penyelenggaraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri, penerapan prinsip food security dan food safety merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di lingkungan Polri. SPPG sebagai unit pendukung operasional memiliki risiko keselamatan dan kesehatan kerja yang bersifat langsung terhadap personel, sehingga wajib dikelola secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan.
Dalam perspektif SMK3, pengelolaan pangan di SPPG Polri harus mencakup identifikasi bahaya (hazard identification), penilaian risiko (risk assessment), serta pengendalian risiko (risk control) pada seluruh tahapan rantai logistik pangan, mulai dari pengadaan, penerimaan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi. Risiko utama yang harus dimitigasi meliputi kontaminasi biologis, kimia, dan fisik yang berpotensi menimbulkan keracunan pangan, penyakit bawaan makanan (foodborne disease), serta gangguan kesehatan yang dapat menurunkan kesiapsiagaan dan kinerja personel Polri.
Sebagai instrumen manajemen risiko operasional, penggunaan test kit pangan berfungsi sebagai mekanisme quality control dan early warning system untuk mendeteksi potensi ketidaksesuaian standar keamanan pangan. Penerapan test kit secara konsisten memperkuat pendekatan preventif dan proaktif, sejalan dengan prinsip SMK3 yang mengutamakan pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dibandingkan penanganan pascakejadian. Dengan demikian, test kit tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi juga bagian dari pengendalian risiko tingkat operasional.
Dalam konteks tata kelola logistik Polri, penerapan food security memastikan ketersediaan bahan pangan yang berkelanjutan, tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu, dan tepat sasaran, sesuai prinsip efektivitas dan efisiensi logistik. Pengelolaan pangan SPPG harus terintegrasi dengan sistem perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, dan distribusi logistik Polri yang berlandaskan akuntabilitas, transparansi, dan kepatuhan terhadap standar. Sementara itu, food safety memastikan bahwa seluruh proses logistik pangan memenuhi standar higienitas dan sanitasi, sehingga output logistik tidak menimbulkan risiko baru bagi personel.
Penerapan prinsip food security dan food safety yang didukung penggunaan test kit juga sejalan dengan kebijakan Polri dalam penguatan manajemen risiko institusi, peningkatan profesionalisme, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan personel. Hal ini mencerminkan komitmen Polri dalam membangun sistem pendukung operasional yang modern, andal, dan berorientasi pada keselamatan manusia (human safety oriented).
Dengan integrasi SMK3, manajemen risiko, dan tata kelola logistik yang baik, SPPG Polri tidak hanya berfungsi sebagai penyedia kebutuhan gizi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pendukung strategis yang menjaga kesehatan personel, mencegah kecelakaan kerja dan kejadian luar biasa, serta mendukung kelancaran pelaksanaan tugas Polri secara berkelanjutan demi terwujudnya zero accident.
Komentar
Posting Komentar